Emak-Emak Nyoba Ngetrail by Eva

Please enter banners and links.

Hiking, menjelajah alam, bukanlah kegiatan yang asing bagi saya. Gede, Halimun, Salak, Pangrango, adalah gunung2 yang sering saya jelajahi. Saya jatuh cinta pandangan pertama pada suami pun di kaki gunung Halimun pada suatu pagi yang dingin dan berangin belasan tahun yang lalu. Hiking terakhir yang saya lakukan (mungkin) sudah 17-18tahun yang lalu. Menjadi istri dan seorang ibu, seperti nya membuat saya harus “melupakan” kegiatan menjelajah alam ini, karena memang gak ada waktu utk melakukan nya. Kesibukan rumah tangga, ngurus anak, bisnis, membuat keinginan hiking saya hilang terkikis. Sejak saya senang berlari, saya tau kalo ada cabang berlari di alam atau sering disebut trail running. Bagi saya yg dulu sering hiking, tidak masuk akal saya bagaimana bisa kita menjelajah alam tapi ada COT (Cut Of Time) nya seperti di trail running ini. Menjelajah alam bagi saya tdk bisa “diburu-buru” dibatasi waktu seperti itu.

Kontributor kita kali ini - Eva

Kontributor kita kali ini – Eva

Tapi beberapa bulan terakhir ini, ketika mulai aktif di sebuah grup trail running, keinginan menjelajah alam mulai sedikit demi sedikit menggelitik hati saya. Saya mulai berpikir, mungkin trail running adalah sebuah kompromi bagi saya utk menghidupkan kembali keinginan menjelajah alam saya tapi dengan waktu yg lbh singkat dari hiking, shg saya gak perlu lama2 meninggalkan anak dan rumah.

Dan dimulai lah perjalanan trail runnning saya dengan mencari sepatu yg tepat. Kalo dulu saya hiking hanya dengan bersendal gunung, maka pencarian sepatu trail yg cocok ini benar-benar membuat saya antusias. Telpon, ngobrol dan nge-WA teman2 sana sini, bertanya pada para master trail running yang saya kenal, apa rekomendasi mereka ttg sepatu trail. Dan ternyata, sepatu trail running adalah hal yang sangat personal, berbeda satu sama lain. Bahkan bang Sitor Sutumorang, tetap nge-trail memakai sepatu lari road nya, karena sepatu itulah yang paling nyaman dipakai buat beliau. Akhirnya satu kesimpulan bagi saya, sepatu paling nyaman yang saya coba itulah sepatu trail pilihan saya, gak peduli merk atau harganya harus mahal atau murah.

Dan pagi kemarin Sabtu 26 Des 2015, tibalah hari trail running pertama saya. Trail running sangat “praktis” buat saya. Dulu setiap mau hiking, butuh waktu seminggu buat saya utk menyiapkan ransel saya, Mulai dari memilih barang2 penting apa yg memang harus penting dibawa, mulai packing, dan mulai “uji coba” bagaimana cara mengambil barang2 tsb dari ransel saya shg gak bikin berantakan didlm ransel saya. Persiapan trail running saya adalah menyiapkan water bladder saya, beberapa gu gel, sedikit uang, membawa ID, power bank HP dan memastikan batere HP saya dlm kondisi penuh. Persis hampir sama dengan persiapan saya kalo mau long run.

Dan ketika kaki saya mulai melangkah menapaki jalanan berbatu di perbukitan Sentul, udara segar membuat memori saya melayang ke masa2 saya sering hiking dulu. Dan harus saya akui, dengan praktis nya bawaan saat trail running, memungkinkan kita utk menjelajah jalur2 sempit di tepi tebing yang saat hiking dan menyandang ransel besar hampir tdk mungkin dilakukan.

Ngetrail di Sentul

Ngetrail di Sentul

Tanjakan tak berkesudahan ex jalur Sentul Ultra Marathon, saya “panjat” dengan hati-hati. Tapi penyakit lama saya yaitu gak pede dengan turunan curam berulang disini. Keseimbangan badan saya yang jelek, membuat saya goyah berlari di turunan. Trail running ternyata sangat mengutamakan kelincahan dan respon kaki yang cepat. Kalo saat hiking, kita bisa berjalan pelan sambil mencari pijakan kaki, maka saat trail running koordinasi antara kaki, mata dan otak benar-benar harus selalu dalam kondisi 100% waspada.

Alhamdulillah, teman-teman trail running saya kemarin sangat supportif pada saya. Mereka gak segan2 menjadi “pegangan” saya di turunan2 licin. Trail running pertama di Sentul kemarin sangat tekhnikal buat saya. Jalur sempit, berbatu, meliuk dan menanjak menguras tenaga saya. Latihan bodypump dan strength training yang saya lakukan selama ini juga ternyata sangat berguna. Kekuatan otot betis, engkel dan otot paha benar-benar sangat penting.

The team

The Sentul team

Mungkin saya tdk akan jadi pelari trail versi cepat dan fokus mengejar finish atau mengejar kumpulan kilometer, tapi saya akan jadi pelari trail emak-emak yang berlari di alam untuk lebih mensyukuri nikmat dari Allah SWT.

(Terimakasih buat, mba Anggia, Om Ifan Olens untuk foto2nya)

2 thoughts on “Emak-Emak Nyoba Ngetrail by Eva

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *