Burners Coast to Coast

Please enter banners and links.

Coast to Coast? Tenang pemirsa, ini bukan judul album Westlife yang dluncurkan satu dekade yang lalu. Ini bukan cerita Burners yang sedang nonton konser Westlife di Inggris sana. Ini cerita tentang sebuah event lari yang start nya di coast (pantai) dan berakhirnya di coast (pantai) juga. Makanya namanya Coast to Coast. Acara besutan Komunitas Komunitas Trail Runner Yogyakarta ini bertajuk “Coast to Coast Night Trail Ultra” mempertandingkan kelas half marathon lebih dikit (25 km) dan kelas ultra marathon (50 km) dengan lokasi trail di sepanjang jalur pantai selatan Yogyakarta.  

Burners menurunkan sejumlah pelari dalam ajang Coast to Coast ini. Di kelas 25 km, Martini dan Andriyanto menjadi wakil Burners. Adapun representasi Burners di kelas 50 km antara lain Lutfi Harada, Lei dan Eva. Tanggal 7 Februari 2016, memasuki pukul 00.00, peserta 50K dilepas untuk berjuang menyelesaikan track 50 km yang menurut testimoni peserta tahun lalu jalurnya cukup ringan. Menjelang subuh, peserta 25 km trail memulai lari.

Burners siap beraksi

Burners siap beraksi

Ternyata jalur easy trail yang dibayangkan tidak sepenuhnya benar. Panitia kegiatan ini memberikan informasi perubahan jalur beberapa hari kemudian. Jalur yang ditempuh para peserta 50 km dimulai dari pantai Selatan Yogyakarta yang berlanjut ke kawasan perbukitan Gunung Kidul dengan melewati wilayah Gua Langse, Gua Cerme, areal persawahan, hutan wisata Panggang dan berakhir dengan melalui beberapa km Gumuk Pasir Parangkusumo. Mendengar jalurnya saja sudah kelihatan bahwa kegiatan trail ini memang bukan ajang lari trail untuk pemula. Tantangan yang dihadapi peserta pun terus bertambah intensitasnya seiring dengan makin jauhnya jarak yang ditempuh.

Sekalinya dapat road, malah nanjaknya bikin ngesot

Sekalinya dapat road, malah nanjaknya bikin ngesot

Para peserta sudah harus rela sepatunya basah di awal-awal kilometer dan harus terus berlari dengan kondisi tengah malam di musim hujan dengan sepatu basah (ini adalah resep masuk angina yang mujarab). Selain itu, jalur perbukitan Gunung Kidul penuh dengan tanjakan dan turunan yang curam serta permukaan tanah yang licin yang memberikan tantangan tersendiri bagi para pesertanya. Di bagian akhir race pun peserta masih ditantang untuk menyelesaikan race dengan melewati gumuk pasir Parangkusumo pada siang hari yang sangat terik. Bagi yang pernah lari di kawasan pasir pasti tahu sendiri bahwa tenaga yang dikeluarkan untuk medan seperti ini lebih besar daripada lari di aspal.

the 25K finisher couple

the 25K finisher couple

Di kelas 25 km, pasangan Andriyanto dan Martini berhasil menyelesaikan jalur 25 km di bawah COT. Bahkan Martini menempati posisi ke 5 untuk kategori wanita di kelas 25 km ini. Sementara di kelas 50 km, beratnya medan membuat banyak peserta yang DNF (did not finish). Beratnya medan ini juga berdampak pada kondisi fisik dan psikis para pelari Burners. Eva harus DNF di km 38, Lutfi Harada DNF di km 46 dan Lei DNF di km 48. Meski DNF, perjuangan rekan rekan Burners yang ikut di kelas 50 km sungguh patut diacungi jempol.

Gumuk Pasir: the final challenge

Gumuk Pasir: the final challenge

Event Coast to Coast sendiri mendapat sejumlah kritik dari peserta karena rutenya yang dianggap ekstrim untuk pelari pemula. Seharusnya, event dengan rute seperti ini lebih cocok untuk mereka yang memang sudah lumayan makan garam dalam event trail run. Meski demikian, para peserta juga mengacungi jempol panitia kegiatan ini dengan makanan dan minuman yang berlimpah di keenam Water Station/Check Point yang disediakan panitia. Varian makanan dan minuman diberikan kepada peserta di setiap Check Point, dan di garis finish peserta disuguhkan dengan makanan tradisional menu seafood dan sayuran yang Maknyus. Jarang-jarang kan ikut race dapat makan siang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *