Burners menantang Tambora

Please enter banners and links.

Kisah pilu yang terjadi 200 tahun silam itu terus membekas di kalangan masyarakat Pulau Sumbawa, dan Nusa Tenggara Barat umumnya. Cerita dari mulut ke mulut tentang letusan Gunung Tambora tersebut seolah tidak berkesudahan. Masyarakat Sumbawa, dan Nusa Tenggara Barat pada umumnya sulit melupakan kisah letusan Gunung Tambora pada tahun 1815. Letusan Gunung Tambora yang dahsyat menyebabkan abu vulkaniknya menutupi sebagian dunia dan menyebabkan suhu bumi turun. Oleh masyarakat dunia, dampak dari letusan Tambora disebut “A year without summer”, karena di tahun tersebut warga dunia di bagian utara (termasuk Eropa dan Amerika) tidak dapat menikmati musim panas karena dampak dari letusan Tambora. Untuk memperingati kisah ini, Kementerian Pariwisata dan Harian Kompas bekerjasama menyelenggarakan Tambora Challenge untuk kedua kalinya, setelah setahun sebelumnya perhelatan ini terlaksana dengan sukses.

Tambora Challenge 2016

Tambora Challenge 2016

Tambora Challenge sendiri memperlombakan dua kategori lomba: yakni Ultra Marathon (320 km dan 100 km) dan Trail Run (50 km dan 20 km). Untuk kategori 320 km, lintasan Tambora merupakan lintasan lari yang terpanjang dan terberat di Asia Tenggara. Selain itu, suhu di Tambora bisa saja menjadi penghalang bagi mereka yang tidak biasa berlari di daerah tropis. Untuk dapat menerima tantangan Tambora ini, tentunya tak sembarang pelari yang mendaftar di event besar ini. Untuk Tambora Challenge, Burners tak ketinggalan mengutus wakilnya. Untuk kategori Ultra, Burners diwakili oleh Rais di kelas 100 km, dan untuk trail run, Burners diwakili oleh duo Patrap – Lutfi di Kelas 50 km dan Ule – Eva di kelas 25 km. Doro Ncanga Gunung Tambora menjadi pusat kegiatan Tambora Challenge 2016.

Start 320K

Start 320K

Ternyata Tambora Challenge memang menyuguhkan medan yang menantang untuk semua pelari yang mengikuti ajang ini. Medan yang menantang ditambah dengan panasnya Tambora merupakan tantangan sendiri bagi para pelari, tak terkecuali para pelari Burners. Sejumlah pelari pun dinyatakan DNF (did not finish). Pelari Burners untungnya tidak menyerah dan mampu melanjutkan race Tambora hingga finish. Meski sempat dilanda kekhawatiran karena duo Lutfi dan Patrap tidak muncul-muncul di garis finish, warga Burners dapat bernafas lega karena kedua pelari 50K ini berhasil menyelesaikan race meski sehari sebelum race, kondisi Lutfi tidak terlalu fit. Dipastikan bahwa kedua pelari Burners ini telat tiba di garis finish karena Patrap sibuk nimbrung pas pelari lain lagi selfie selama perjalanan. Rais, Lutfi, Patrap, Eva dan Ulee berhasil menyelesaikan racenya masing-masing. So proud of Burners team in Tambora Challenge.

Duo Patrap - Lutfi di Trail 50K

Duo Patrap – Lutfi di Trail 50K

Trail 25K - Ulee & Eva

Trail 25K – Ulee & Eva

Pak Rais di kelas 100K

Pak Rais di kelas 100K

Salah satu highlight Burners di Tambora Challenge adalah keberhasilan Mrs. Natascha Oking a.k.a Ulee ¬†menjadi podium pertama wanita kategori trail 25K. Perjuangan Ulee menjuarai event ini tidak datang begitu saja, latihan keras ditempuhnya selama persiapan Tambora. Terkadang Ulee harus mulai berlari jam 8 pagi agar bisa merasakan atmosfer panas di Tambora. “Udara Tambora masih bagus. Pemandangan sepanjang jalan pun tak kalah indahnya. Saya kesini memang untuk lihat Tambora,” kata Ulee kepada Kompas.

Masuk Kompas Euy

Masuk Kompas Euy

Podium Tambora Challenge

Podium Tambora Challenge

Award presentation from representative of Ministry of Tourism to Mrs. Natascha Oking

Award presentation from representative of Ministry of Tourism to Mrs. Natascha Oking

Finishing a race is a bless, but being a winner is a massive bonus. So congrats Ulee for your crown. Keep it up for the next event.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *